Wednesday, 4 December 2013

Kunjungan Industri UKM Tahu di Wirobrajan


Kunjungan Industri UKM Tahu di Wirobrajan, Yogyakarta







Kunjungan industri kali ini, tempat yang dipilih adalah suatu industri (UKM) pembuatan tahu yang berada di Wirobrajan, Yogyakarta. Industri ini dimiliki oleh Ibu Juminem dan suaminya. Mereka memulai usaha ini kurang lebih sejak 30 tahun yang lalu. Bentuk dari industri yang dikelola oleh Ibu Juminem ini adalah home industry yang dikelola oleh keluarganya dan dalam proses pembuatannya dibantu oleh anaknya. 

Produk utama yang diproduksi oleh Ibu Jumninem ini adalah tahu putih, yang nantinya hasil sampingnya yakni ampas tahu yang diolah menjadi tempe gembus dan pakan ternak. Seperti tahu pada umumnya, bahan baku yang digunakan adalah kedelai lokal dimana dalam produksi selama 1 hari bisa menghabiskan 1 kuintal kedelai. Selain itu air yang digunakan adalah air sumur. Bahan bakar untuk memasak ialah kayu dan serbuk kayu. Tungku yang digunakan untuk memasak kedelai menggunakan prinsip uap, dimana uap panas dihasilkan dari pembakaran kayu yang kemudian dialrikan menggunakan pipa-pipa menuju dasar tungku/bejana perebusan.

Proses produksi tahu awalnya dimulai dengan menyortasi kedelai dengan cara merendam kedelai dalam ember berisi air. Dimana kedelai yang sudah jelek kualitasnya akan mengapung. Kedelai yang merupakan hasil sortasi tersebut lalu direndam dengan air selama 4-5 jam. Setelahnya, barulah kedelai dicuci bersih dengan air sumur. Kedelai impor maupun kedelai lokal yang merupakan bahan baku dari tahu ini, dicampur dengan perbandingan 1:1, namun dapat juga kedua jenis kedelai ini tidak dicampur. Kedelai-kedelai ini digiling hingga nantinya mennghasilkan sari kedelai.






 
Bahan baku pembuatan tahu






 
Kedelai-kedelai ini digiling hingga nantinya mennghasilkan sari kedelai.




Sari kedelai ini kemudian direbus di tungku perebusan sampai mendidih dan matang merata, Setelah mendidih, kemudian sari kedelai disaring menggunakan kain dengan serat yang tidak terlalu rapat menuju tungku pencampuran. Penyaringan ini memiliki tujuan untuk memisahkan sari kedelai dengan limbahnya. Hasilnya berupa saripati kedelai yang telah dipisahkan dengan limbahnya yang kemudian pada proses selanjutnya ditambahkan air fermentasi. Air fermentasi ini didapat dari air sisa perebusan sari kedelai yang telah diambil ampasnya yang berumur 1-2 hari. Air fermentasi yang digunakan dalam sekali produksi adalah sebanyak 2 ember berukuran sedang. Campuran tersebut kemudian diaduk rata lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan antara saripati kedelai yang berbentuk gumpalan-gumpalan dan air fermentasi yang berada dibagian atas. Semakin lama air fermentasi yang digunakan, maka akan semakin cepat proses penggumpalan sari pati kedelainya sehingga proses selanjutnya akan lebih cepat dikerjakan.

Air yang berada dibagian atas permukaan kemudian disedot menggunakan selang berukuran besar untuk mempermudah proses pemisahan. Air yang disedot keluar sebagian dibuang dan sebagian lagi disimpan untuk proses pembuatan tahu keesokannya lagi sebagai fermentor. Sari pati kedelai yang menggumpal tersebut lalu diangkat dan dipindahkan ke cetakan tahu yang terbuat dari balo kayu yang sebelumnya diberi alas kain tipis dibawahnya. Setelah dipindahkan ke cetakan kayu lalu ditutup dengan papan kayu dan didiamkan selama kurang lebih 15 menit. Tahu yang telah jadi kemudian dipotong kotak-kotak berukuran sedang.




Perebusan kedelai yang sudah digiling, menggunakan tungku dari semen (bis sumur) dengan sistem penguapan yang dialirkan menggunakan pipa ke bagian dasar bejana tungku






 
Air fermentasi yang digunakan untuk membuat tahu.




 
Pekerja (anak dari Ibu Juminem) yang sedang mempersiapkan proses penyaringan sari kedelai menggunakan kain saring berwarna hijau.





 
Proses pengadukan saat perebusan sari kedelai agar matang secara merata.





 
Praktikan kelompok C dan O




 
Sari kedelai dipindahkan ke bejana selanjutnya untuk dilakukan proses penyaringan.





 
Proses penyaringan saripati kedelai dengan ampasnya yang dibantu dengan ditimbun batu agar mempercepat peyaringan.







 
Proses pemberian air fermentasi ke dalam bejana yang berisi saripeati kedelai yang telah terpisah dengan ampasnya. Dibutuhkan 2 ember air fermentasi.


 




 
Proses penyedotan untuk memisahkan air fermnetasi dengan saripati kedelai yang telah menggumpal.





 
Hasil dari proses pencampuran dengan air fermentasi dan telah dipisahkan dengan permukaan atasnya.





 
Pemindahan ke cetakan ahu yang terbuat dari kayu berbentuk balok yang dibwahnya dialasi dengan kain saring, dan didiamkan beberapa saat agar mendapat bentuk yang kotak.





 
Ditutup dengan papan kayu agar mempercepat air keluar.








 
Foto praktikan kelompok C dan O bersama Ibu Juminem.




Seperti pada industri tahu pada umumnya, tentunya selalu ada limbah yang dihasilkan. Limbah pada yang dihasilkan berupa ampas tahu yang biasanya diolah menjadi gembus, sedangkan limbah cair dibuang ke IPAL kolektif yang dikelola pemerintah. Pemasaran produk tahu buatan Ibu Juminem ini adalah dengan penjualan yang dilakukan oleh Ibu Juminem sendiri yang dijajakan dipasar atau ada orang-orang yang memang sengaja membeli langsung ke tempat Ibu Juminem. Biasanya Ibu Juminem menjualnya kepada pedagang di Pasar Nithikan dan Pasar Sorogenen. Tahu Ibu Juminem ini belum meiliki merk dagang dan dijual dengan harga 300-400 rupiah per buah, sedangkan gembusya dijual 250 rupiah per buah.









~ Laporan kunjungan industri
~ Photo by Co-ass






Tuesday, 19 November 2013

Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam dunia pendidikan



#BeasiswaDataPrint



Setiap orang pasti menginginkan kesuksesan dari dunia pendidikan agar kemudian dapat diaplikasikan di masyarakat dan dunia kerja. Mungkin kebanyakan orang berpikir bagaimana hubungan antara pendidikan dan kunci kesuksesan dalam hidup ini? Keberhasilan kita tergantung dari seberapa banyak kita percaya pada kemampuan diri kita sendiri. Pendidikan memberi kita kesempatan untuk mengungkap dan menyadari bakat bawaan kita sambil memberikan ketrampilan berikir dan memecahkan masalah kita sendiri.
Berdasarkan pengertiannya, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003).
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita - cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Oleh sebab itu dibutuhkan perpaduan yang menunjang dalam kehidupan pendidikan, yaitu mengembangakan IQ, EQ dan SQ dalam prosesnya di dunia pendidikan.
IQ (Intelektual Question) merupakan bagian terpenting dalam individu seseorang. Intelektual membantu seseorang dalam menganalisa sesuatu, berfikir secara rasional dan melakukan secara maksimal. Intelektual sering kali menjadi tolak ukur dalam perencanaan program pembelajaran. EQ (Emotional Question) adalah bagian yang menjadi identitas kepribadian seseorang. Emosional yang terjaga baik dan tertata rapi juga akan menghasilkan pribadi yang baik dan berkualitas. Sehingga dalam pelaksanaan proses pembelajaran, emosional peserta didik sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Anonim1, 2013).
Sedangkan SQ (Spiritual Question) merupakan kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Hal ini akan membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya (Anonim2, 2013).
Ketiga elemen diatas terlihat berbeda namun saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Selain itu IQ, EQ, dan SQ sebaiknya diterapkan sejak dini pada dunia pendidikan. Contoh penerapan dalam dunia pendidikan dapat bermacam-macam sesuai masing-masing bidang tentunya. Contohnya seorang mahasiwarantau yang belajar dengan gigih di kampusnya dengan selalu mengemban amanah orangtuanya agar sukses dalam pendidikannya dengan tetap mengembangkan soft skill diri dan bersosialisasi secara bijak dalam organisasi, sehingga dirinya gampang menyesuaikan diri dalam berbagai situasi sulit untuk terus mewujudkan visi misinya di dalam hidup. Pendidikan membuat kita mampu untuk berpikir secara mandiri, kesuksesan hanyalah masalah watu. Bangunlah bangsa ini dengan pendidikannya, pendidikan yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan  good spiritual para penerusnya.

Sumber:
Anonim1. 2013. Peran IQ, EQ, dan SQ Pada Pendidikan. Diambil dari http://akulb.blogspot.com/2012/04/peran-iq-eq-dan-sq-pada-pendidikan.html. Pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 11.15 WIB.

Anonim2. 2013. Kecerdasan Spiritual. Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_spiritual. Pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 11.20 WIB.


Sunday, 17 November 2013

Narsis di Research Week UGM 2013






RW 2013 Logo size kecil




Dalam rangka Dies Natalis UGM ke 64, LPPM UGM  melaksanakan Research Week 2013. Sebuah rangkaian acara yang rutin dilaksanakan tiap tahun,dimana didalamnya terdapat berbagi macam event seperti Lokakarya, Talkshow, Workshop, Seminar, Pelatihan, Panggung Terbuka, dan puncaknya adalah Innovation Expo. Dalam Innovation Expo Fakultas-Fakultas,Pusat-Pusat Studi dan Unit Pelayanan Teknis yang ada di UGM dapat memamerkan hasil-hasil penelitian mereka.

Dalam Innovation Expo tidak hanya memamerkan hasil penelitian, tapi juga terdapat stand-stand UMKM hasil binaan LPPM UGM. Dalam event ini UMKM binaan LPPM UGM dapat memperkenalkan produk-produk mereka dan juga menjualnya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi UMKM, karena mereka dapat memperkenalkan produk-produk mereka pada masyarakat. Selama ini tidak sedikit UMKM yang masih kesulitan memperkenalkan produk-produk mereka dikarenakan keterbatasan modal yang ada.

Dalam acara puncak ini juga terdapat workshop-workshop, seminar, talk show maupun pelatihan. Pengunjung dapat mengikuti acara-acara tersebut dengan gratis. Selain  itu teradapat juga panggung hiburan yang akan menampilkan pertunjukan-pertunjukan dari UKM,fakultas fakultas dan juga Pusat Studi yang ada di UGM yang akan menghibur pengunjung. Puncak Pelaksanakan Research Week akan dilaksanakan pada tanggal 13-17 November 2013 di Grha Sabha Pramana UGM lantai 1.


Cusss ke GSP bareng Afiifah dan Rani ditengah rinai-rinai huan yang turun.... Buat investigasi apa yang ada di dalem GSP hoho



 
 Stand Fakultas Teknologi Pertanian (TIP, TEP, dan TPHP)



 
FTP pamerin hasil PKM juga lo yang menang kemaren dan beberapa produk hasil lainnya.




 
Masuk stand Fakultas Hukum, cuss bisa nyobain baju sidang Hakim haha. Kita beralih profesi sekarang. Cocok juga kalo aku jadi hakim cuy. 















 
 Stand fakultas teknik.... Ueeee banyak mobilnya uey




 
Stand pertanian, ada cabe dan bawang guedeee cuy







 
Stand peternakan, beli susu sapiiiii segar Mowww , dan beralih jadi koboy bentar  :D




        

 Nah giliran nyobain Stand Budaya Korea ni,,, nyobain baju adat Korea nyomot 5 ribu dari kantong, nambah 5 ribu buat atribut lainnya (red: kias, mahkota dll)





Dan kerennya kita, tanpa sebagai peserta stand atau yang punya kepentingan acara bisa dapet stand instalasi pasca bencana alam. Jadi jaga stand sambil makan-makan wkwkwkwk
















Sunday, 20 October 2013

Foragrin Photo Session




Before saying hello again, mau kretek-kretekin pinggang dulu hwahaha minggu penuh pegal-pegal ternyata.... Oke, lama nggak ngeblog, jadi bingung apa yang harus gue tulis. Dan beberapa lalu karena ada kegiatan Orientasi Jurusan, dapet sms dari ketua Himatipa buat presentasi Foragrin biar para mahasiswa baru lebih kenal, karena bahwaannya *halaah* besok tahun depan alias 2014, kita-UGM bakal jadi tuan rumah acara Foragrin yang rencana berkonsep Jambore Nasional TIP gitu. Yaa PDKT dulu lah biar pada tau. Dan buat presentasi itu kita malah sempetin bikin sesi foto anggota foragrin UGM buat disempilin di presentasi hari-H saat OJ.

 
 Gini nih baru seneng. Inget-inget kalo diajak kumpul buat rapat susahnya minta ampun, kalo gini mah ayo-ayo aja hehe. Lain kali tiap jarkom rapat diagendain buat sesi foto aja kali ya. Kan enak tuh, lumayan lengkap nih yang di UGM hoho ^O^



 
 Septi, Apfiifah, Helsafira, Sintia, Ditasuri, Zulfa, Amanda, Dita Lintang, me, Riska, Wieke, Mb Tikus











Mind Mapping "Enterprise Risk Management"





 




Manajemen resiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko.

    Proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan
    Suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan /pengelolaan sumberdaya

Istilah lain dari pengertian resiko adalah (risk) atau risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. [3] Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:

* Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).

Chance of loss
Berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian.Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.

* Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

* Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).


* Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.


* Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan). Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

* Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan.
 

PROSES MANAJEMEN RESIKO

Pemahaman risk management memungkinkan manajemen untuk terlibat secara efektif dalam menghadapi uncertainty dengan risiko dan peluang yang berhubungan dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk memberikan nilai tambah. Menurut COSO, proses manajemen risiko dapat dibagi ke dalam 8 komponen (tahap)

(1) Internal environment (Lingkungan internal)
Komponen ini berkaitan dengan lingkungan dimana instansi Pemerintah berada dan beroperasi. Cakupannya adalah risk-management philosophy (kultur manajemen tentang risiko), integrity (integritas), risk-perspective (perspektif terhadap risiko), risk-appetite (selera atau penerimaan terhadap risiko), ethical values (nilai moral), struktur organisasi, dan pendelegasian wewenang.

(2) Objective setting (Penentuan tujuan)
Manajemen harus menetapkan objectives (tujuan-tujuan) dari organisasi agar dapat mengidentifikasi, mengakses, dan mengelola risiko. Objective dapat diklasifikasikan menjadi strategic objective dan activity objective. Strategic objective di instansi Pemerintah berhubungan dengan pencapaian dan peningkatan kinerja instansi dalam jangka menengah dan panjang, dan merupakan implementasi dari visi dan misi instansi tersebut. Sementara itu, activity objective dapat dipilah menjadi 3 kategori, yaitu 
(1) operations objectives; (2) reporting objectives; dan (3) compliance objectives.

Risk tolerance dapat diartikan sebagai variation dalam pencapaian objective yang dapat diterima oleh manajemen. Dalam penerapan pelayanan pajak modern seperti pengiriman SPT WP secara elektronik, diperkirakan 80% Wajib Pajak (WP) Besar akan mengimplementasikannya. Bila ditentukan risk tolerance sebesar 10%, dalam hal 72% WP Besar telah melaksanakannya, berarti tujuan penyediaan fasilitas tersebut telah terpenuhi. Disamping itu, terdapat pula aktivitas suatu organisasi seperti peluncuran roket berawak dengan risk tolerance adalah 0%.

(3) Event identification (Identifikasi risiko)
Komponen ini mengidentifikasi kejadian-kejadian potensial baik yang terjadi di lingkungan internal maupun eksternal organisasi yang mempengaruhi strategi atau pencapaian tujuan dari organisasi. Kejadian tersebut bisa berdampak positif (opportunities), namun dapat pula sebaliknya atau negative (risks).

Terdapat 4 model dalam identifikasi risiko, yaitu
(1) Exposure analysis; (2) Environmental analysis; (3) Threat scenario; (4) Brainstorming questions. Salah satu model, yaitu exposure analysis, mencoba mengidentifikasi risiko dari sumber daya organisasi yang meliputi financial assetsphysical assets seperti tanah dan bangunan, human assets yang mencakup pengetahuan dan keahlian, dan intangible assets seperti reputasi dan penguasaan informasi. Atas setiap sumber daya yang dimiliki organisasi dilakukan penilaian risiko kehilangan dan risiko penurunan. seperti kas dan simpanan di bank,

(4) Risk assessment (Penilaian risiko)
Komponen ini menilai sejauhmana dampak dari events (kejadian atau keadaan) dapat mengganggu pencapaian dari objectives. Besarnya dampak dapat diketahui dari inherent dan residual risk, dan dapat dianalisis dalam dua perspektif, yaitu: likelihood (kecenderungan atau peluang) dan impact/consequence (besaran dari terealisirnya risiko). Dengan demikian, besarnya risiko atas setiap kegiatan organisasi merupakan perkalian antara likelihood dan consequence.

Penilaian risiko dapat menggunakan dua teknik, yaitu: (1) qualitative techniques; dan (2) quantitative techniques. Qualitative techniques menggunakan beberapa tools seperti self-assessment (low, medium, high), questionnaires, dan internal audit reviews. Sementara itu, quantitative techniques data berbentuk angka yang diperoleh dari tools seperti probability based, non-probabilistic models (optimalkan hanya asumsi consequence), dan benchmarking.

Yang perlu dicermati adalah events relationships atau hubungan antar kejadian/keadaan. Events yang terpisah mungkin memiliki risiko kecil. Namun, bila digabungkan bisa menjadi signifikan. Demikian pula, risiko yang mempengaruhi banyak business units perlu dikelompokkan dalam common event categories, dan dinilai secara aggregate.

(5) Risk response (Sikap atas risiko)
Organisasi harus menentukan sikap atas hasil penilaian risiko. Risk response dari organisasi dapat berupa: (1) avoidance, yaitu dihentikannya aktivitas atau pelayanan yang menyebabkan risiko; (2) reduction, yaitu mengambil langkah-langkah mengurangi likelihood atau impact dari risiko; (3) sharing, yaitu mengalihkan atau menanggung bersama risiko atau sebagian dari risiko dengan pihak lain; (4) acceptance, yaitu menerima risiko yang terjadi (biasanya risiko yang kecil), dan tidak ada upaya khusus yang dilakukan.


Dalam memilih sikap (response), perlu dipertimbangkan faktor-faktor seperti pengaruh tiap response terhadap risk likelihood dan impact, response yang optimal sehingga bersinergi dengan pemenuhan risk appetite and tolerances, analis cost versus benefits, dan kemungkinan peluang (opportunities) yang dapat timbul dari setiap risk response.

(6) Control activities (Aktifitas-aktifitas pengendalian)
Komponen ini berperanan dalam penyusunan kebijakan-kebijakan (policies) dan prosedur-prosedur untuk menjamin risk response terlaksana dengan efektif. Aktifitas pengendalian memerlukan lingkungan pengendalian yang meliputi: (1) integritas dan nilai etika; (2) kompetensi; (3) kebijakan dan praktik-praktik SDM; (4) budaya organisasi; (5) filosofi dan gaya kepemimpinan manajemen; (6) struktur organisasi; dan (7) wewenang dan tanggung jawab.

Dari pemahaman atas lingkungan pengendalian, dapat ditentukan jenis dan aktifitas pengendalian. Terdapat beberapa jenis pengendalian, diantaranya adalah preventive, detective, corrective, dan directive. Sementara aktifitas pengendalian berupa: (1) pembuatan kebijakan dan prosedur; (2) pengamanan kekayaan organisasi; (3) delegasi wewenang dan pemisahan fungsi; dan (4) supervisi atasan. Aktifitas pengendalian hendaknya terintegrasi dengan manajemen risiko sehingga pengalokasian sumber daya yang dimiliki organisasi dapat menjadi optimal.

(7) Information and communication (Informasi dan komunikasi)
Fokus dari komponen ini adalah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak terkait melalui media komunikasi yang sesuai. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyampaiaan informasi dan komunikasi adalah kualitas informasi, arah komunikasi, dan alat komunikasi.

Informasi yang disajikan tergantung dari kualitas informasi yang ingin disampaikan, dan kualitas informasi dapat dipilah menjadi: (1) appropriate; (2) timely; (3) current; (4) accurate; dan (5) accessible. Arah komunikasi dapat bersifat internal dan eksternal. Sedangkan alat komunikasi berupa diantaranya manual, memo, buletin, dan pesan-pesan melalui media elektronis.

(8) Monitoring
Monitoring dapat dilaksanakan baik secara terus menerus (ongoing) maupun terpisah (separate evaluation). Aktifitas monitoring ongoing tercermin pada aktivitas supervisi, rekonsiliasi, dan aktivitas rutin lainnya.

Monitoring terpisah biasanya dilakukan untuk penugasan tertentu (kasuistis). Pada monitoring ini ditentukan scope tugas, frekuensi, proses evaluasi metodologi, dokumentasi, dan action plan.

Pada proses monitoring, perlu dicermati adanya kendala seperti reporting deficiencies, yaitu pelaporan yang tidak lengkap atau bahkan berlebihan (tidak relevan). Kendala ini timbul dari berbagai faktor seperti sumber informasi, materi pelaporan, pihak yang disampaikan laporan, dan arahan bagi pelaporan.



Sumber: http://pengertianmanagement.blogspot.com/2012/11/management-resiko.html

Wednesday, 2 October 2013

Kuliah Tamu (makul pengendalian mutu) - TOFU


Salah satu rangkaian Dies Natalis FTP yang ke 50 itu adalah diadakannya beberapa kuliah tamu. Setauku ada dari Jurusan TIP dan TPHP. Untuk TIP sendiri dimasukkan dalam mata kuliah Pengendalian Mutu dengan tema TOFU, dan dibimbing oleh dosen dari TPHP Bu Trisye dan Dosen dari Jerman (teman dari Pak Wahyu). Jadi kuliah tamu ini diadakan di Auditorium FTP agar sekalian muat untuk banyak mahasiswa yang mengikuti. Penyampaiannya dengan metode ceramah biasa dan menggunakan slide presentasi, beberapa menit di akhir kuliah digunakan untuk sesi tanya jawab. Ya sekalian belajar jadi bule deh, secara penyampainnya pakai bahasa inggris. Meski untuk yang dari dosen TPHP tetap memakai bahasa Indonesia, haha. Sebagian materi masuk lah, meski ada banyak istilah science yang kurang paham atau bisa dibilang tidak paham haha, tapi okelah. Tapi sayang banget nggak dapet softcopy materinya. Ya sudahlah pakai catetan sendiri yang kurang jelas juga ni nulisnya. Dan sori banget ini sedikit tidak lengkap, karena lagi males banget buat nulis -_-