Sunday, 28 July 2013

"Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?"



Fa bi ayyi aalaa-i robbikuma tukadziban (QS: Ar Rahmaan)
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?








Beberapa hari lalu nemu video ini, sebuah iklan ramadhan tapi touching banget, jadi gak nahan meleleh ni mata.
Dua orang anak kecil yang memiliki keterbatasan, mereka sudah tidak punya keluarga, tapi di sini si Fizi salah seorang dari mereka tadi ingin pulang ke kampung halamanya untuk mengunjungi makam ibunya. Dan membagi rasa sayang dan memiliki kepada saudara muslimnya, mengatakan bahwa Ibunya adalah juga Ibu temannya. Sungguh banyak pesan yang terkandung di video ini. Betapa kita sangat membutuhkan cinta, ketika cinta dari keluarga tak lagi kita dapatkan, yakinlah cinta saudara-saudara muslimmu akan tetap mengokohkan langkah hidupmu.
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?......



Fa bi ayyi aalaa-i robbikuma tukadziban (QS: Ar Rahmaan)
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?

Ayat diatas diulang sebanyak 31 kali. Tidak tersebar di 30 juz Al Qur'an tapi hanya terkonsentrasi di 1 surat saja. Kebanyakan hanya diselingi oleh 1 ayat saja. Tentunya ayat itu diturunkan oleh Allah karena perilaku jin dan manusia yang tak tahu diri. Terus saja mendustakan kenikmatan yang diberikan-Nya. Padahal jelas firman Allah "wa in ta'uddu ni'matallohi laa tuhsuuhaa- dan jika kamu sekalian menghitung nikmatnya Allah, niscaya tidak akan terhitung."

Sekarang kita coba tengok betapa nikmatnya hidup di Indonesia kita tercinta. Indonesia hanya memiliki 2 musim saja, hujan dan kemarau. Sementara kebanyakan negara memiliki 4 musim, semi,panas,gugur dan dingin. Musim dingin itu hanya terlihat indah di foto. Salju yang begitu memukau tampah berkilau di foto, padahal buat yang sudah pernah merasakannya, masya allah susahnya. Jangankan ke luar rumah, didalam rumah saja maunya nempel terus sama pembakaran api atau heater

Ada cerita lain lagi. Ternyata, tidak karena negara islam atau negara yang dalam sejarahnya adalah bekas negara islam, lantas kemudian menjalankan ibadah rukun islam bisa dijalankan dengan aman-selamat-lancar-barokah. Di sebuah negeri yang selama berabad-abad menjadi bukti sejarah kejayaan islam, yang namanya shalat itu harus di masjid. Artinya, tidak diperbolehkan shalat di kantor atau di sembarang tempat lainnya. Akibatnya, orang lebih memilih meninggalkan shalat karena tidak mungkin selama jam kerja harus ke masjid untuk shalat, apalagi yang jaraknya jauh. Di negeri yang lain, beda lagi ceritanya. Semua peribadatan dikendalikan oleh negara, semua mesjid milik negara dan bahkan semua khotib adalah pegawai negara. Di Indonesia? Di trotoarpun cukup, dengan menggelar koran bekas, shalat bisa dilaksanakan dimana saja. Siapa saja bisa mengamalkan dalil "man bana masjidan fid dunya banalloohu lahu baitan fi jannah-barangsiapa yang membangun masjid di dunia, Allah akan membangunkan bagi orang itu rumah di sorga." Setiap orang bisa mendirikan majelis ta'lim, ormas, dll.
 Di banyak negara islam, menikah adalah perkara sulit. Terkendala mahar yang tinggi. Di indonesia? Undangan dan resepsi pernikahan bisa terjadi beberapa kali dalam satu minggu bahkan satu hari. Resepsi tidak harus di gedung, di rumah bahkan di gang2 sempit pun resepsi bisa dilaksanakan. Mahar tidak harus berjuta-juta, dengan seperangkat alat sholat dibayar ngutang pun jadi. KUA tidak pernah mempersulit, selama rukun kawin dipenuhi menikah bisa dilaksanakan kapan saja dan dimana saja. Dalil "iltamisurrizqo bin nikaah-carilah rezeki dengan menikah." rupanya bisa lebih diterapkan di Indonesia daripada di negeri asalnya para nabi.

Menurut Prof. Arysio Nunes Dos Santos, Benua Atlantis yang 16.000 tahun yang lalu memiliki peradaban yang sangat tinggi, yang diceritakan Plato 2500 tahun yang lalu, bukanlah legenda. Benua "sorga" itu adalah Indonesia. Tidak percaya? baca saja bukunya yang menghebohkan "Atlantis The Lost Continents Finally Found."

Senang terus? tentu saja tidak. Kehidupan banyak tantangan, termasuk di Indonesia. Banyak sekali masalah, tetapi yang jadi masalah bukanlah masalah itu sendiri. Melainkan bagaimana melihat masalah. Jika memiliki keyakinan 'ribuan cobaan' selalu disusul 'jutaan pertolongan' dan diakhiri 'milyaran kemenangan' dan 'sorga pasti', maka dalil fa bi ayyi aalaa-i robbikumaa tukaddzibaan akan selalu valid terpatri dalam diri kita. 

Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut kesalahan-kesalahannya” (HR  Bukhori no 5641, Muslim no . 2573).

Begitu juga ketika keputusan Allah tidak sesuai harapan kita. Mungkin itu adalah untuk kebaikan jangka panjang kita. Ingatlah, Allah memberikan apa yang kita PERLUKAN, bukan yang kita HARAPKAN, karena bisa jadi apa yang kita harapkan justru mendatangkan mudharat bagi kita.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216)

Perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai, penyakit yang menggerogoti tubuh kita,  merupakan beberapa ujian yang perlu kita ambil sisi positifnya. Jangan kita terus mengeluh dan mengeluh. Karena, tak ada gunanya juga terus meratapi nasib. Sesekali, beranikan diri kita untuk mengambil sisi positif dari itu semua. Karena, di balik semua kejadian, pasti ada hikmahnya. Wallahu a’lam.




#Reminder #Refleksi
~Jangan lupa bersyukur ^^




No comments:

Post a Comment

Post a Comment